|
.:: FEATURE ::. Author : Wed, 03 Jan 2007 17:09:05 +0700
Jika Hujan Bukan Lagi Rahmat
“Airnya butek. Ya, air lumpur gitu. Ntar kalo airnya udah surut, lumpurnya ketinggalan deh di rumah. Kita ngebersihin. Kalau banjirnya, gede lumpurnya sampai sedengkul gitu, kalau airnya di atas lima meter. Iya, tiap tahun, tiap tahun sekali pasti gitu. Cuman kalau yang gedenya, lima tahun sekali. Ini kayaknya mau kayak tahun 2002, naik lagi.” Itulah sepenggal penuturan Maisaroh, salah seorang warga dari ribuan orang yang tinggal di sepanjang tepi Sungai Ciliwung, tentang kondisi permukiman warga setiap kali musim banjir tiba. Sungai Ciliwung adalah salah satu dari 13 sungai yang membelah kota Jakarta. Jika musim hujan, sungai-sungai tak mampu menampung air, hingga meluap ke permukiman warga. Setiap tahun daerah pinggiran sungai menjadi langganan banjir. Kini musim hujan tiba lagi. Para pengamat memperkirakan pada tahun 2007 akan terjadi banjir besar di Jakarta. Konon, ini merupakan siklus banjir besar lima tahunan. Sebelumnya, pada tahun 2002 banjir bandang merendam sebagian besar wilayah Jakarta. Pemerintah Jakarta pun sudah mengingatkan warga agar berhati-hati terhadap ancaman banjir tahun ini. Gubernur Sutiyoso sudah memerintahkan pegawainya untuk membuat sistem peringatan dini banjir di Ibu Kota. Sutiyoso telah berembuk dengan para pejabat di Jakarta untuk bersiap-siap menghadapi banjir. Katanya, Jakarta sudah siap menghadapi kemungkinan datangnya siklus banjir besar lima tahunan. “Petugas kita akan beroperasi selama 24 jam. Begitu juga crisis centre yang sudah ada kita fungsikan. Dari hari ke hari sesuai perkembangan. Terus kita tambah sarana prasarana yang memang diperlukan. Yang pasti bahwa sarana prasarana itu akan kita ajukan ke titik-titik yang kita yakini akan tergenang saat hujan nanti,” kata Sutiyoso. Persiapan seperti apa yang dilakukan pemerintah Jakarta untuk menghadapi banjir tahun ini? Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta Slamet Daroyni menilai persiapan Jakarta menghadapi banjir hanya responsif. Menurut dia, pemerintah harus mencegah banjir, bukan merespons banjir. Pencegahan itu dapat dilakukan dengan menambah daerah resapan air, dengan cara menambah jalur hijau dan hutan kota. Selain itu pemerintah juga harus mengeruk sungai-sungai yang sudah dangkal karena penuh sampah. Namun, kenyataannya pemerintah terus membangun gedung dan menambah jalan beraspal. “Sistem drainase yang ada di DKI Jakarta sangat buruk sekali, tumpang tindih, berbaur dengan sistem instalasi, baik listrik, kemudian telepon, bahkan air. Sehingga terjadi kemandekan air di berbagai titik. Termasuk juga normalisasi 13 sungai yang saya rasa tidak tuntas dalam sepuluh tahun terakhir,” kata Slamet. Pemberian izin bangunan yang merusak hutan kota merupakan salah satu penyebab utama banjir. “Ironisnya, mereka mendapatkan izin secara formal dari pemeritah DKI Jakarta. Seperti Pantai Indah Kapuk, lapangan golf di Pademangan yang merupakan kawasan hutan kota, dan beberapa pengerukan kawasan situ dan danau,” tambah Slamet. Banjir di Jakarta sering kali merupakan banjir kiriman, yaitu banjir akibat hujan di daerah-derah hulu sebelah selatan Jakarta, seperti Depok dan Bogor. Tingginya curah hujan di Bogor ditambah merebaknya pembangunan area perumahan membuat air hujan mengalir ke Jakarta. Sementara itu sungai-sungai di Jakarta tak mampu menampung air hujan, karena sudah dangkal dan penuh sampah. Salah satu sungai yang paling sering membawa banjir kiriman adalah Sungai Ciliwung, yang membentang dari Bogor sampai Teluk Jakarta. Bantaran sungai ini dipenuhi perumahan penduduk, yang padat dan kumuh. Di beberapa bagian sungai ini terdapat pintu air yang berfungsi mengatur aliran air. Salah satu pintu air utama Sungai Ciliwung adalah pintu air Manggarai. Pintu air ini berfungsi mengatur air yang akan melewati daerah perumahan orang kaya, Menteng. Jika tidak ada pintu air Manggarai, setiap Sungai Ciliwung meluap maka kawasan Menteng dan Istana Negara pasti terendam air. Kini pintu air Manggarai dipenuhi sampah. Setiap kali sampah di pintu air ini diangkat, tak lama kemudian penuh lagi. Menurut penjaga pintu air Manggarai, Kusharyanto, sampah-sampah di pintu air sering menyumbat aliran air, sehingga air meluap dan membanjiri permukiman warga. “Sampah itu sebetulnya menjadi kendala juga. Artinya, menjadi faktor di luar dua faktor yang dominan tadi, faktor penyebab banjir. Karena sampah itu dalam volume sekian kubik bisa menyumbat pintu air di Manggarai. Sumbatan itulah yang bisa meluap,” kata Kusharyanto. Banjir sudah meluap di mana-mana. Di Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan, dan tempat-tempat lain. Kerusakan lingkungan hidup telah mengubah hujan menjadi petaka, bukan lagi rahmat. Setiap musim hujan datang, banjir selalu mengancam. Dan di musim hujan tahun ini, petaka banjir kembali mengancam Jakarta. (Widya Siska/E2)
[Send to Friends]
[Printer Friendly Page]
Related Links : Tuesday, 02 January 2007 13:58:53 Walhi Jakarta: Tuesday, 26 December 2006 15:49:03 2 Tahun Tsunami Aceh & Nias Tuesday, 26 December 2006 13:35:26 Longsor di Muara Sipongi Tuesday, 26 December 2006 11:57:42 Thursday, 21 December 2006 11:42:07 Walhi:
|