|
.:: NEWS ::. Author : Thu, 01 Feb 2007 11:35:11 +0700
Internasional
Konflik AS - Iran Picu Perang Terbuka
Baghdad - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat meletup menjadi perang terbuka. Demikian peringatan para analis politik dan pejabat militer Amerika. Kondisi itu diperburuk pemerintahan George Bush yang menuduh Iran mendukung milisi perlawanan di Irak serta isu ambisi pengembangan senjata nuklir. Situs news.yahoo.com Kamis (1/2) menulis, gelar pasukan Amerika secara besar-besaran di Teluk Persia serta kebijakan keras terhadap keterlibatan Iran di Irak dan Lebanon dapat mempercepat konflik terbuka. Menurut para analis, konflik Irak telah berubah menjadi medan pertempuran antara Washington dan Teheran. Pada 20 Januari lalu sejumlah militan menculik dan membunuh empat serdadu Amerika dalam penyergapan di Karbala. Seorang tentara Amerika juga tewas dalam baku tembak. Seorang pejabat pertahanan Amerika secara anonim menyatakan salah satu kemungkinan yang kini tengah dipelajari adalah apakah agen-agen Iran terlibat langsung dalam eksekusi atau mengotaki serangan tersebut. Kecurigaan itu muncul karena metode yang lihai dan tidak biasa dalam penyerangan, seperti menyamar dan memakai senjata pasukan Amerika. Berdasarkan spekulasi yang berkembang di kalangan militer Amerika, serangan di Karbala merupakan aksi balasan terhadap penangkapan lima warga Iran oleh pasukan Amerika di utara Irak. Duta Besar Amerika untuk Irak Zalmay Khalilzad pekan lalu menyatakan lima warga Iran itu ditangkap di utara kota Irbil. Dua di antara yang ditangkap adalah anggota Pasukan Pengawal Revolusi Iran yang dituduh menyediakan senjata, pelatihan, dan dukungan lain pada kelompok-kelompok militan Syiah di Timur Tengah. Namun pejabat Irak dan Iran bersiteguh bahwa kelima orang itu diplomat. Sejak serangan di Karbala, lontaran tuduhan Amerika terhadap Iran semakin deras. Padahal, sampai saat ini sedikit bukti untuk memperkuat tuduhan tersebut. Jenderal nomor dua Amerika di Irak dalam sebuah wawancara bersama USA Today yang dilansir Selasa (30/1) menyatakan Iran memasok milisi Syiah berbagai senjata, termasuk roket Katyusha dan peluncur granat. "Kami mendapatkan senjata-senjata yang dikenali melalui nomor seri berasal dari Iran," ujar Letnan Jenderal Raymond Odierno. Angkatan Udara Amerika sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan patroli di perbatasan Irak dengan Iran. Menurut laporan Los Angeles Times yang mengutip pernyatan pejabat senior Pentagon, patroli itu untuk mencegah penyelundupan senjata dan bom dari Iran. Sementara itu kapal induk kedua Amerika telah berlayar menuju kawasan Teluk dengan sejumlah misil Patriot. Sejak Bush mengumumkan strategi baru terhadap Irak awal Januari lalu, para pejabat Iran berulang kali melontarkan kekhawatiran bahwa Amerika bermaksud menyerang Iran. Presiden Mahmoud Ahmadinejad menyatakan telah "siap sedia" berkonfrontasi dengan Amerika. Pengamat Iran, Profesor Gary Sick, yakin Amerika tengah mencoba membelokkan perhatian dunia pada krisis di Irak dengan menbentuk koalisi dengan Israel dan negara-negara Sunni konservatif untuk menghadapi Iran. "Saya menilai itu kebijakan jangka panjang yang berbahaya, karena tindakan itu menyebarkan ide bahwa Sunni dan Syiah mesti saling membenci. Saya pikir hal itu dapat berbalik dan menghantam kita," ujarnya. Amerika secara terang-terangan juga menyokong pemerintah Lebanon dalam perjuangan politik menghadapi milisi Syiah, Hezbollah, yang dituduh bertindak atas kepentingan Iran. (AP/Yerry Niko/E4)
[Send to Friends]
[Printer Friendly Page]
Related Links : Wednesday, 31 January 2007 18:21:49 Internasional Wednesday, 31 January 2007 15:17:59 Internasional Tuesday, 30 January 2007 15:01:58 Internasional Tuesday, 30 January 2007 12:02:17 Internasional Monday, 29 January 2007 16:10:23 Internasional |