|
.:: FEATURE ::. Author : Tue, 17 Apr 2007 16:54:02 +0700
Lumpur Mengancam Cita-cita Seto
Rumah tenggelam. Gedung sekolah tenggelam. Ujian nasional di depan mata.
Siang malam suara riuh terdengar dari berbagai penjuru Pasar Baru Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Tempat kemah pengungsi korban semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas itu tak pernah sepi. Tempat itu disesaki ribuan orang dewasa dan anak-anak. Itulah suasana di pengungsian Januari tahun ini. Anak-anak bermain dan berlarian ke sana-kemari, seolah-olah lupa nasib mereka sebagai pengungsi. Tumpukan barang-barang milik 4.000 keluarga menambah semarak permukiman pengungsi di Pasar Baru Porong. Kebanyakan pengungsi di tempat ini berasal dari Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS); Desa Kedungbendo, Kecamatan Kedungbendo; Perumahan Sitra Pesona; dan Desa Renokenongo, Porong. Jumlah mereka mencapai 15 ribu jiwa. Sebagian dari mereka sudah mendapat bantuan sewa rumah dari PT Lapindo. Sebagian yang lain hidup keleleran, mengungsi di pasar. Sementara anak-anak bermain leluasa, seolah-olah tak ada masalah besar. Seto, 10 tahun, anak pengungsi yang duduk di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Kedung Bendo 1 tampak bermain dengan yang lain. Seolah ia tak tahu rumahnya telah ditelan lumpur PT Lapindo. Sekolahnya pun sudah lenyap ditelan lumpur. Untuk belajar, ia dan teman-temannya harus “nebeng” di SD Negeri Ketapang 2, sekitar dua kilometer dari tempat pengungsian. Mereka menempati sekolah itu pada siang hari, setelah pelajaran bubar. Setiap hari Seto berangkat dan pulang sekolah dengan angkutan yang disediakan PT Lapindo. Tapi jumlah angkutan tak sebanding dengan murid yang diangkut. Sering kali mobilnya tak muncul, sehingga anak-anak itu terpaksa berjalan kaki di bawah terik matahari. Banyak di antara mereka yang memilih bolos sekolah daripada harus berjalan kaki. Yang tetap ke sekolah seperti Seto pun semakin kelam kulitnya akibat terpanggang terik surya. Siti Komariah, ibu Seto, mulai khawatir akan pendidikan anaknya. Kantongnya sudah tidak mencukupi untuk membiayai sekolah Seto dan adiknya, Rini, yang kini baru duduk di bangku kelas III SD. Selama ini Siti harus mengutang ke sana-kemari untuk membiayai sekolah dua buah hatinya itu. Dulu Siti menjadi penjahit di Kedungbendo. Hasilnya bisa meringankan beban suaminya yang bertani. Kini sawah mereka sudah terendam lumpur. Rumah dan usaha jahitannya pun demikian. Tak ada nafkah, kecuali bantuan dari PT Lapindo. Wanita berambut lurus ini bisa membiayai sekolah dari usaha jahitannya. Lagi pula sekolah anaknya tak jauh dari rumah sehingga dapat ditempuh dengan jalan kaki. “Sekarang sekolahnya jauh, harus naik angkot,” kata Siti. “Harus ada tambahan biaya. Biasa dikasih Rp 1.000, sekarang harus Rp 2.000. Duit dari mana?” Sementara pengeluaran untuk uang sekolah anak-anaknya setiap bulan tetap harus dibayar Siti. Untung Seto anak yang gigih. Agar tetap bersekolah ia rela berjalan kaki dari Pasar Baru Porong menuju sekolah yang berjarak dua kilometer dari tempat pengungsian. Tapi Siti tak tega melihat anaknya harus berjuang keras untuk bisa belajar. Apalagi bocah itu harus menyusuri jalan raya Porong yang padat lalu lintas. Seto termasuk anak cerdas. Ia selalu juara kelas. Cita-cita menjadi dokter memacu semangatnya agar tidak ketinggalan pelajaran. Pipinya yang bulat kembang-kempis dileleri keringat setelah berjalan dari sekolahnya. ”Saya sering jalan kaki,” katanya. “Kalau naik angkot mahal.” Karena menumpang belajar di gedung sekolah lain, Seto harus mau belajar dari pukul 13.00 hingga 16.30. Waktu belajar yang singkat membuat murid tak bisa menyerap pelajaran secara penuh. Sementara ujian nasional sudah menunggu bulan Mei tahun ini. Menurut Mujiono, guru SD Negeri Siring, daya tangkap anak-anak korban lumpur Lapindo semakin menurun. Salah satunya karena harus menumpang di sekolah lain dengan waktu belajar singkat. “Ada penurunan prestasi. Anak-anak banyak yang tidak aktif sekolah.” Guru kelas VI sekolah dasar ini mengatakan banyak anak yang bolos. Sebabnya, selain jarak sekolah jauh, mereka sering ikut berunjuk rasa dengan orang-orang tua. “Kalau orang tuanya demo, anak-anak juga ikut.” Selain itu di pengungsian anak-anak tidak bisa belajar. Hiruk pikuk pungungsi di Pasar Porong merusak konsentrasi mereka. Apalagi tiap keluarga hanya mendapat tempat berukuran 2 x 2 meter, yang disekat dengan tumpukan barang-barang yang mereka angkut dari rumah. Akibatnya mereka tak bisa mengulang pelajaran di rumah. Pekerjaan rumah pun banyak yang keteteran. “Di sini belajar tidak nyaman. Selalu rame-rame. Ngak bisa belajar,” ujar Seto. Redupnya lampu penerangan di pengungsian menambah masalah bagi para pelajar. Satu-satunya sumber penerangan di pasar seluas separuh lapangan bola itu adalah lampu besar di tengah-tengahnya. Lampu itu tak cukup terang untuk membaca. Anak-anak harus menyalakan lilin agar bisa membaca dan menulis pekerjaan rumah. Kini Seto dan ratusan anak pengungsi harus berjuang mengatasi ketinggalan pelajaran dari siswa SD lain. Mereka belum siap menghadapi ujian nasional yang sudah di depan mata. Haruskah cita-cita menjadi dokter kandas di telan lumpur akibat ulah PT Lapindo Brantas? (E2)
[Send to Friends]
[Printer Friendly Page]
Related Links : Tuesday, 17 April 2007 13:20:00 Lumpur Panas Lapindo Tuesday, 17 April 2007 11:20:28 Tuesday, 17 April 2007 11:07:55 Lumpur Panas Lapindo Monday, 16 April 2007 17:45:02 Monday, 16 April 2007 16:31:31 Lumpur Panas Lapindo
|