|
.:: FEATURE ::. Author : Wed, 18 Apr 2007 15:59:25 +0700
Ayo Nebeng!
Jalanan kota disesaki mobil pribadi. Macet dan pemborosan tak terhindari. Ada solusi cerdas. Libur akhir pekan telah usai. Waktunya kembali bekerja. Senin pagi minggu lalu Rudyanto bersiap berangkat kerja ke kantornya di Cakung, Jakarta Timur. Setelah menyantap roti tawar yang disiapkan istrinya, Sylvia Setiadarmo, pria 33 tahun ini menghidupkan mesin Kijang keluaran tahun 1993 yang diparkir di halaman rumah di Taman Ubud Indah, Lipppo Karawaci, Tanggerang. Mobil warna silver itu kemudian dikeluarkan ke jalan di depan rumah. Namun Rudy, begitu panggilan akrab pria keturunan Tionghoa ini, tidak langsung berangkat menuju tempat kerjanya. Pria necis ini terlebih dahulu menjemput tiga orang yang akan nebeng. Mereka telah menunggu di halte yang sepakati. Tiga penebeng itu bekerja di tempat berlainan, namun di rute menuju kantor Rudy. Berdasarkan kesepakatan, pria asal Malang, Jawa Timur, ini menghampiri tiga penebengnya setiap pukul 06.00. Kemudian mereka berangkat bersama melewati rute Tol Jakarta-Merak; Kebon Jeruk, Jakarta Barat; Senayan, Jakarta Selatan; Jalan Cassablanca, Jakarta Selatan; hingga Cakung, Jakarta Utara. Tiga rekan penebengnya itu berkantor di Jalan Soedirman dan HR Rasuna Said. Web developer ini mengumpulkan para pekerja yang bermobil dan tidak bermobil dalam Komunitas Nebeng. Ia ingin membangun kerja sama dengan sesama pekerja untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan menghemat bahan bakar. Ide pembentukan Komunitas Nebeng muncul di benak Rudy saat ia terjebak macet kala berangkat kerja. “Saya lihat di kanan, kiri, depan, belakang, setiap mobil hanya berisikan satu orang,” katanya. Sementara banyaknya mobil tak sebanding dengan lebar jalan di Jakarta. Rudy lantas berpikir alangkah efisien jika orang dalam dua mobil bergabung dalam satu mobil. Selain mengurangi kemacetan, juga menghemat pemakaian bahan bakar, bahkan mengurangi karbonmonoksida di udara. Sementara bahan bakar fosil seperti minyak bumi kian langka, karena merupakan energi yang tak dapat diperbarui. Sedangkan permintaan bahan bakar semakin naik seiring pertambahan kendaraan dan pertumbuhan industri. Apalagi harga bahan bakar terus saja naik. Maka, nebeng menjadi solusi. Rudy mulai mengajak sesama pengendara mobil untuk bergantian membawa mobil. Jika temannya mengendarai mobil, Rudy memilih nebeng. Demikian pula sebaliknya. Bersama tunangannya, Sylvia, pada tahun 2005 ahli teknologi informasi ini membuat mailinglist untuk membangun Komunitas Nebeng. Ia juga mulai mereka-reka slogan untuk menyadarkan para penerima emailnya. Ketemulah kalimat yang cukup menggugah: “Mari Hemat BBM! Ayo Nebeng!” Gayung bersambut. Tak dinyana kini anggota mailinglist-nya sudah mencapai 19 ribu orang. Mereka adalah pemberi tebengan dan penebeng. Rudy pun membuat situs mengenai informasi nebeng. Alamatnya www.nebeng.com. Situs ini berisi informasi seputar masalah transportasi anggota komunitasnya. Komunitas Nebeng umumnya bukan hanya dari Jakarta, tapi juga dari kota-kota sekitar seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Seperti situs biro jodoh, www.nebeng.com berisi data pemilik mobil dan orang-orang yang mau nebeng. Orang yang ingin memberi tumpangan dapat mengajukan diri pada Komunitas Nebeng dengan menyebutkan jalur yang akan dilalui, siapa yang bisa nebeng, dan persyaratan untuk nebeng. ”Setiap anggota menginput data masing-masing seperti swalayan,” kata Rudy. “Nanti orang bisa memilih sendiri mana tebengan yang cocok.” Dengan mengimput data, antara pemberi tumpangan dan penebeng bisa saling mengetahui jati diri. Dengan demikian kemungkinan terjadi tindak pidana dalam komunitas ini bisa dihindari. Setelah itu para anggota komunitas saling berinteraksi melalui alamat email atau nomor telepon untuk cross check. Kalau saling cocok, aktivitas nebeng bisa berlanjut. Pemberi tebengan umumnya memberikan persyaratan yang mudah untuk calon penebeng. Sebagian memungut ongkos dari penebeng. Namun pemilik kendaraan yang melewati jalur “3 in 1” biasanya memberikan tumpangan gratis. “Daripada harus bayar joki,” kata Rudy. “Untuk yang gratis, biasanya pemberi tebengan yang melewati jalur 3 in 1. Kan tujuannya simbiosis mutualisme.” Komunitas nebeng bukanlah hal baru. Di Jerman komunitas serupa telah terorganisasi dengan baik. Bahkan, di negera produsen mobil itu ada makelar nebeng profesional yang mempertemukan penebeng dengan pemilik mobil. Ahli transportasi perkotaan Jerman, Todd Litman, pendiri Victoria Transport Policy Institut, merupakan pencetus ide penggunaan mobil secara bersama. Ia menemukan ide ini ketika menyadari Jerman mengalami masalah kemacetan dan kelangkaan bahan bakar. Hasilnya, menggunakan satu mobil beramai-ramai memang lebih irit. Walaupun ada cara untuk menghemat bahan bakar seperti penggunaan larutan kimia yang dijual di pasaran, cara ini hanya mampu menghemat 20%. Sedangkan jika dua orang naik satu mobil bisa menghemat 50%. Jika empat orang menumpang satu mobil tentu menghemat empat kali lipat. Jika 19 ribu anggota Komunitas Nebeng menggunakan mobil pribadi sendiri-sendiri, rata-rata konsumsi bahan bakar tiap mobil 10 liter per hari. Dalam sebulan konsumsi bahan bakar mencapai 5.700.000 liter.
Dengan nebeng, empat orang mengendarai satu mobil, bahan bakar yang dikonsumsi tinggal seperempatnya, 1.425.000 liter. Mereka menghemat 4.275.000 liter bahan bakar per bulan. Jika mereka menggunakan bensin premium yang harganya Rp 4.500, dalam sebulan komunitas ini menghemat Rp 19.237.500.000. Luar biasa! (E2)
[Send to Friends]
[Printer Friendly Page]
Related Links : Wednesday, 18 April 2007 15:30:02 Pencemaran Monday, 09 April 2007 16:58:52 Monday, 05 February 2007 14:35:48 Banjir Monday, 05 February 2007 13:49:44 Banjir Jakarta Friday, 22 December 2006 15:05:16 Internasional
|