Voice of Human Rights News Centre - Menyuarakan Hak Asasi Manusia, Hukum & Demokrasi
 H O M E Voice of Human Rights News Centre
We move to www.vhrmedia.com.....(KAMI PINDAH KE WWW.VHRMEDIA.COM)
  Tuesday, 07 September 2010
Ind   Indonesia
VHRmedia Internet Streaming Radio
DESK SSR

Monday, 11 June 2007 13:47:49
"Menyimak Cerita, Memihak Kemanusiaan"

Thursday, 03 May 2007 17:20:29
Kebebasan

Friday, 20 April 2007 13:07:47
Bumi Makin Panas

Friday, 13 April 2007 12:23:16
"Pembinaan"

Monday, 26 March 2007 17:02:25
The Art of Resistance

Thursday, 01 March 2007 13:58:08
"Taat Cuma Kalo Ada yang Liat"

Friday, 09 February 2007 15:01:10
Face Off

Monday, 14 August 2006 08:22:08
Hukuman Mati: Pengkhianatan Konstitusi

Friday, 04 August 2006 13:53:47
Menjadi Pemula


NEWS FEATURE INTERVIEW RADIO ABOUT US


.:: EDITORIAL ::.
Author : FX Rudy Gunawan
Fri, 20 Apr 2007 13:07:47 +0700



Bumi Makin Panas


Pada tahun 1970-an, seingat saya, ada sebuah film nasional berjudul Bumi Makin Panas garapan sutradara Ali Shahab dan dibintangi artis Suzanna. Sebuah film yang sepertinya tidak jauh dari perkara ranjang, dunia malam, atau apa yang dianggap sebagai “kebejatan manusia”, walau sebenarnya penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, penghancuran alam, korupsi, pembunuhan politik, manipulasi, jauh lebih pas disebut sebagai “kebejatan manusia”. Judul film itu jelas sebuah kiasan belaka. Saat itu mungkin orang belum menduga, bumi suatu hari benar-benar merana karena benar-benar makin panas.
 
Kini hal itu menjadi kenyataan. Bumi makin panas secara nyata. Global warming benar-benar telah terjadi. Cuaca berubah drastis. Tak terkendali. Jakarta kerontang. Sawah-sawah di pedesaan meranggas kering. Emisi gas buang memadati udara yang kita hirup. Air bersih semakin susah. Tapi bumi terus dieksploitasi secara semena-mena. Hutan-hutan terus digunduli, limbah industri terus mencemari sungai-sungai, lautan menjadi tempat sampah raksasa, polusi udara menghitamkan langit, tambang-tambang terus digali, pemborosan energi makin berlebihan, dan banyak lagi perilaku manusia yang perlahan-lahan menghancurkan alam.
 
Keserakahan manusia selama berabad-abad seakan tak pernah terpuaskan oleh apa pun. Bumi adalah sasaran empuk keserakahan manusia yang seakan tak akan habis dieksploitasi. Keserakahan memang tak ada batasnya. Batasnya hanya kematian, saat manusia kembali ke bumi, lenyap ditelan bumi, dan menjadi bagian dari bumi. Tapi manusia-manusia serakah tak pernah peduli pada apa pun kecuali pada pemuasan keserakahan mereka. Mereka bahkan tak peduli jika tak ada lagi burung di langit biru karena pohon-pohon sudah habis. Keserakahan manusia juga yang memicu perang antarbangsa. Perang yang akhirnya hanya membawa kehancuran lingkungan hidup manusia. Menang atau kalah sama saja.
 
Sejarah penghancuran alam adalah sejarah keserakahan manusia yang tak terbendung. Segelintir orang yang berhasil memerangi keserakahan dirinya mulai bertindak untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Rachel Carson, ahli biologi kelautan, misalnya, menulis buku Silent Spring pada tahun 1962 yang menjadi laku keras dan berhasil menggugah banyak pembacanya agar memiliki environmental awareness sehubungan dengan banyaknya pemakaian bahan kimia dalam industri, agrokultur, dan bahkan kehidupan sehari-hari rakyat Amerika.         
 
Lalu ada Senator Amerika Serikat dari Winconsin, Gaylord Nelson, seorang konservatif yang memelopori gerakan Hari Bumi atau Earth Day karena terinspirasi aksi antiperang Vietnam dari mahasiswa yang meluas di Amerika akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an. Nelsonlah yang pertama kali melakukan kampanye Hari Bumi di Amerika. Ia mulai mengampanyekannya pada gubernur negara bagian, para wali kota, para editor koran-koran kampus, dan pada majalah sekolah yang didistribusikan di seluruh sekolah dasar dan menengah di Amerika. Berkat gerakan yang dirintisnya kemudian lahir peringatan Hari Bumi setiap 22 April.
 
Bagaimana dengan bumi Indonesia kita tercinta saat ini? Berbagai “peringatan” dari bumi terus terjadi selama dua-tiga tahun terakhir ini. Tsunami Aceh dan gempa di Yogyakarta adalah dua peristiwa yang paling banyak memakan korban jiwa dan kehancuran parah sarana kehidupan. Telah adakah kesadaran untuk memperlakukan bumi sebagai ibu pertiwi yang harus kita cintai dan hormati? Ini pertanyaan besar yang pertama-tama harus dijawab oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakan untuk melindungi hutan, laut, gunung, sungai, tanah, satwa, tumbuhan, serta udara dari segala bentuk keserakahan manusia. Agar mampu melakukan itu, pertama-tama tentunya pemerintah Indonesia harus menjadi pemerintah yang tidak serakah. Jika tidak, bumi akan terus makin panas dan kehancuran pun tak terelakkan lagi. (*)

[Send to Friends]   [Printer Friendly Page]


Related Links :

Thursday, 19 April 2007 16:27:02
Hari Bumi

Search
Banjir 2007
Analysis
Human Rights Database
Security Sector Reform
The Letter
Links
Polling
Copyright © 2005 - 2010 VHRmedia.net - Voice of Human Rights News Centre
Jl. Tebet Barat Dalam II / 15 - Jakarta Selatan 12810 - Indonesia
Phone : +62 21 831 8274 - Faximile : +62 21 831 8276
E-mail : vhr@vhrmedia.net