
Foto: Widya Siska
Ia tak lagi perkasa. Kakinya lumpuh. Korban kekejaman itu hidup dari belas kasih orang. Zulham meringkuk di bawah pohon besar yang batangnya lebih dari rangkulan tangan orang dewasa. Kedua kakiya yang pendek membengkak karena
bomble foot, pembengkakan otot. Pembuluh darahnya mampet karena terlalu lama berdiri menahan tubuhnya yang tambun. Luka sekecil apa pun pasti membuatnya terinfeksi bakteri.
Jalannya tertatih-tatih. Untuk makan pun Zulham menunggu uluran tangan relawan di Pulau Kotok. Lama sudah dia tak mengarungi angkasa luas. Padahal dulu dia tinggal di pepohonan di hutan Pulau Kotok, salah satu pulau di Kepulaun Seribu, DKI Jakarta. Pulau itu adalah panti jompo untuk satwa liar. Istilah kerennya
sanctuary.
Zulham seekor elang bondol. Elang langka ini menjadi maskot kota Jakarta. Miniaturnya mudah ditemukan di tempat-tempat umum di ibu kota negara. Kini dia tinggal di Zona II Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS).
Zulham harus melupakan angkasa. Kini dia tak lagi gagah perkasa. Sayapnya dipatah (
dikipling) oleh seorang pedagang burung, agar tidak bisa terbang. Akibatnya, sayapnya lumpuh, tak lagi bisa terbang mengintai dari udara, dan menukik menerkam mangsa.
Sebenarnya Zulham masih muda. Baru 5 tahun. Umumnya elang bondol bisa hidup sampai seperempat abad. Meski kini Zulham cacat, bulu punggung, perut, dan ekornya masih memesona. Warnanya cokelat cerah kemerahan. Bulu kepala dan dadanya putih bergaris-garis kelabu. Paduan warna itu sungguh menawan, khas elang bondol.
Orang asing menyebut elang bondol
Brahminy Kite. Mungkin karena cara terbang mereka mirip layang-layang. Mereka tinggal di sungai, rawa, hutan, pohon-pohon bakau, atau danau di ketinggian 230.000 di atas permukaan laut.
Panjang tubuh si bondol sekitar 45 cm. Makanan pokok mereka ikan, tapi juga doyan binatang kecil lain seperti anak ayam, katak, ular, kadal, kelelawar, baik yang mati maupun hidup.
Zulham korban penculikan. Ia dulu diambil dari habitatnya oleh pemburu, lalu diperjualbelikan. Bertahun-tahun ia terpenjara di sangkar mewah. Selama di sangkar itu dia tidak bisa terbang. Bahkan, sayapnya tidak pernah bergerak.
Tahun lalu orang yang memelihara Zulham terpaksa mengembalikannya kepada Pemerintah Daerah Jakarta karena dirazia aparat. Pedagang itu diancam hukuman penjara lima tahun atau denda Rp 100 juta karena memperdagangkan satwa yang dilindungi. Elang bondol memang salah satu burung mahal. Di pasaran, salah satu jenis elang laut ini laku Rp 750 ribu per ekor.
Kita bisa menemui teman-teman Zulham di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur. Di tempat itu setiap bulan tak kurang dari sepuluh elang bondol diperjualbelikan. Menurut survei tahun 2004, populasi elang bondol liar di Lampung dan Jakarta tinggal 15 ekor. Padahal, semestinya ada 150 ekor elang bondol di wilayah antara Lampung dan Jakarta. Kini sang maskot itu hampir punah karena ulah para pemburu.
Pertumbuhan populasi elang bondol memang lambat. Seekor induk hanya bisa bertelur satu hingga dua butir dalam setahun. Kalau beruntung, telur itu menetas menjadi anak elang. Tapi tak jarang telur itu pecah, jatuh dari pohon tinggi karena tertiup angin. Persoalan lainnya, 70% elang bondol penghuni Pulau Kotok jantan. Jadi, pengembangbiakan mereka lamban.
Menurut penelitian, banyak elang betina mati karena stres saat dikerangkeng pemburu. Elang jantan lebih tegar dalam penjara. Elang bondol salah satu predator tangguh. Setiap pagi buta, sebelum mentari muncul, kawanan elang bondol melayang-layang di laut, memburu ikan.
Tapi, kini Zulham hanya bisa menyaksikan teman-temannya terbang dan menukik ke laut. Para relawan membuatkan Zulham kolam yang diisi ikan laut. Zulham dan para elang bondol jompo memburu ikan-ikan itu dengan paruh kokoh mereka yang ujungnya runcing, melengkung, dan berwarna kuning.
Di pulau-pulau itu ada juga beberapa elang muda perkasa yang sedang “berobat”. Elang-elang yang baru diambil dari para pedagang biasanya menjalani opname selama sebulan hingga enam bulan. Selama itu mereka menjalani perawatan intensif, juga
trauma healing. Jika sudah bisa beradaptasi dengan alamnya, mereka dilepas. Bebas mengarungi angkasa.
Lalu mereka siap berburu mangsa. Dari angkasa, mata mereka yang bisa melihat dari jarak jauh mengintai mangsa di laut atau darat. Begitu mangsa terlihat, mereka akan menukik, menyambar tiba-tiba. Kaki-kaki yang kokoh dengan kuku tajam segera mencengkeram mangsa. Lalu mereka membawa mangsa itu ke sarang di atas pepohonan tinggi dan menikmati jamuan makan.
Namun, seganas apa pun predator liar seperti elang bondol, mereka tak mampu mengalahkan keganasan manusia. Predator seperti elang bondol tak memangsa sembarang binatang. Mereka memilih binatang yang sedang sakit. Kalau tidak dimakan predator, binatang yang sakit akan menularkan wabah bagi binatang lain. (E2)