Voice of Human Rights News Centre - Menyuarakan Hak Asasi Manusia, Hukum & Demokrasi
 H O M E Voice of Human Rights News Centre
We move to www.vhrmedia.com.....(KAMI PINDAH KE WWW.VHRMEDIA.COM)
  Tuesday, 09 February 2010
Ind   Indonesia
VHRmedia Internet Streaming Radio
FEATURE

Monday, 18 June 2007 17:48:53
We move to www.vhrmedia.com

Friday, 08 June 2007 18:14:15
Sebuah Sekolah di Gang Pelangi

Thursday, 07 June 2007 18:45:31
Pestisida Nabati 'Made in' Subang

Tuesday, 05 June 2007 14:30:11
Sebuah Pesan untuk Puput

Monday, 04 June 2007 20:14:18
Menyambung Hidup dengan Dawai

Thursday, 31 May 2007 17:46:36
Para Pedagang Menghitung Hari

Tuesday, 29 May 2007 14:52:23
Kisah Melawan Lupa

Monday, 28 May 2007 18:44:36
Keluarga Ienes, Keluarga Waria

Wednesday, 23 May 2007 18:14:10
Zulham Terpojok di Pulau Kotok

Tuesday, 22 May 2007 17:18:16
Berharap Hujan Emas di Negeri Orang




.:: FEATURE ::.
Author : Widya Siska
Thu, 31 May 2007 17:46:36 +0700



Para Pedagang Menghitung Hari


Kios-kios bunga, ikan hias, dan burung di Jalan Barito terancam digusur. Padahal, tempat itu tak hanya punya nilai ekonomis, tapi juga nilai rekreatif.


Kicau burung bersahutan dari kios pedagang kaki lima menyemarakkan kehidupan Jalan Barito, Jakarta Selatan. Satimin duduk menunggu pengunjung di depan salah satu kios. Hampir 30 tahun dia berdagang burung berikut makanannya di sana.
 
Pada tahun 1978 Satimin tiba di Jakarta dari Gunung Kidul, Dearah Istimewa Yogyakarta. Waktu itu ia baru saja keluar dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Ia tak mau menjalani pekerjaan berat bergaji rendah. Dengan modal Rp 18 ribu, disemangati hobi memelihara burung, lelaki berkulit legam itu mulai berdagang makanan burung dengan gerobak.
 
Demi menghidupi istri dan tiga anaknya, setiap hari lelaki bertubuh tinggi besar itu menarik gerobak dari rumah kontrakannya ke Jalan Barito, yang jaraknya empat kilometer. Dulu jalan itu belum beraspal. Untuk menarik gerobaknya turun ke lokasi berjualan, ia memerlukan bantuan empat sampai lima orang. "Jalan berlubang-lubang dan turunan,“ kata pria 51 tahun ini.
 
Satimin dan ratusan pedagang kaki lima lain yang umumnya berjualan bunga dan ikan hias akhirnya berhasil membangun kios semipermanen. Kini 65 kios burung, 20 kios buah-buahan, dan 15 kios makanan berjajar mengelilingi Taman Langsat yang tertutup untuk umum itu. Kios itu berdiri di trotoar luar taman. Sekarang Taman Langsat yang luasnya lebih dari 5 hektare terhampar memanjang itu telah dikelilingi 250 kios pedagang kaki lima. Sedangkan 51 kios bunga dan 54 ikan hias mengelilingi Taman Ayodya yang di tengahnya terdapat danau.
 
Tempat itu sangat bersih, sehingga siapa pun yang berkunjung akan senang. Pasar Barito bukan hanya dikenal masyarakat Jakarta. Banyak orang asing berkunjung untuk membeli bunga atau ikan hias. Bahkan, banyak pedagang yang mengekspor ikan hias ke Korea Selatan.
 
Kini  para pedagang di Jalan Barito resah. Pemerintah akan menggusur mereka, berdasarkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2006. Konon tempat itu akan dijadikan ruang terbuka hijau agar bisa meresap air. Jakarta memang sudah kehilangan ruang terbuka hijau sehingga daerah resapan air berkurang. Akibatnya, setiap hujan tiba banjir selalu mengancam warganya. Lebih-lebih, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, setiap kota harus memiliki kawasan hijau minimum 20% dari seluruh luas kota.
 
Satimin dan para pedagang lain akan dipindah ke daerah Radio Dalam. Namun mereka keberatan karena tempat baru itu tidak strategis.
 
Menurut Ketua Kelompok Pedagang Bunga, Teddy Pandji, Pemerintah Provinsi harus mengkaji aspek ekonomi dan sosialnya  sebelum memindahkan para pedagang. "Kami mau direlokasi, tapi tempatnya yang layak, agar usaha tidak mati," kata pria berumur 51 tahun ini. “Jangan sampai pemerintah mengulangi kesalahan ketika Pasar Bunga Cikini yang terkenal pada tahun 70-an dipindah ke tempat yang tidak strategi, sehingga mati.”
 
Teddy juga mencontohkan pemindahan pedagang ikan hias di Johar Baru, Jakarta Pusat. Akibat pemindahan itu para pedagang gulung tikar hingga hanya sepuluh kios yang bertahan. Jika tempat usaha baru nanti tidak menguntungkan, sumber pendapatan 1.200 orang keluarga pedagang kaki lima di sana terancam.
 
Para pedagang meminta rencana induk penataan Taman Ayodya tidak menghilangkan kios mereka. Sebab, menurut mereka, kios itu telah memberikan nilai ekonomis taman tersebut. Saat ini setiap kios memiliki omzet penjualan minimum Rp 100 ribu per hari. Jadi, omzet keseluruhan 250 kios di sana senilai Rp 7,2 miliar per tahun. Dari omzet sebesar itu setiap tahun pemerintah Jakarta dapat mengantongi pajak dan uang sewa lahan senilai Rp 5,2 miliar.
 
Para pedagang juga mempertanyakan kenapa mereka yang digusur. Bukankah di Jakata ada 30 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berada di taman dan jalur hijau? Bagi mereka, pedagang bunga, ikan hias, dan burung tidak merusak lingkungan. Bahkan, tempat itu juga menjadi tempat pariwisata yang unik.
 
Kini para pedagang di Jalan Barito hanya bisa khawatir akan nasib mereka. Juga masa depan anak-anak mereka. Dan, penggusuran itu tinggal menghitung hari. (E2)

[Send to Friends]   [Printer Friendly Page]


Related Links :

Thursday, 31 May 2007 15:01:42
Penembakan Petani Pasuruan

Thursday, 31 May 2007 13:00:07
Penembakan Petani Pasuruan

Tuesday, 15 May 2007 12:45:28

Friday, 11 May 2007 16:29:32
Sengketa Tanah Meruya

Tuesday, 24 April 2007 17:16:49
Kabar dari Malaysia

Search
Banjir 2007
Analysis
Human Rights Database
Security Sector Reform
The Letter
Links
Polling
Copyright © 2005 - 2010 VHRmedia.net - Voice of Human Rights News Centre
Jl. Tebet Barat Dalam II / 15 - Jakarta Selatan 12810 - Indonesia
Phone : +62 21 831 8274 - Faximile : +62 21 831 8276
E-mail : vhr@vhrmedia.net